Jumat, 13 April 2012

Supervisi Manajerial, Supervisi Akademis, dan Supervisi Klinis


A.Model Supervisi Pendidikan

Model berasal dari Bahasa Inggris Modle, yang bermakna bentuk ataukerangka sebuah konsep, atau pola.Harjanto (2006) mengartikan modelsebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuandalam melakukan suatu kegiatan. Raulerson (dalam Harjanto, 2006) mengartikan model diartikan sebagai "a set of parts united by some form of interaction" (artinya: suatu perangkat dari bagian-bagian yang diikat atau dipersatukan oleh beberapa bentuk hubungan saling mempengaruhi).Khusus dalam bahasan ini adalah model yang berkaitan supervisi,penulis lebih tepat menggunakan istilah acuan yang dipakai dalammelaksanakan sepervisi. Sahertian (2000) membagi model supervisi menjaditiga bentuk: a) model konvensional (tradisional), b) model ilmiah, dan (c)model klinis dan d) model artistik.

a) Model konvensional (tradisional)
Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat.Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh padasikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untukmencari-cari kesalahan.Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksiuntuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan.Kadang-kadangbersifat memata-matai.Perilaku seperti ini disebut snoopervision(memata-matai).Sering disebut supervisi yang korektif.Memang sangatmudah untuk mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi lebih sulit lagi"untuk melihat segi-segi positif dalam hubungan dengan hal-hal yangbaik.Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya untukmencari kesalahan adalah suatu permulaan yang tidak berhasil.Mencari-cari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan denganprinsip dan tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya guru-guru merasatidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru: 1) Acuhtak acuh (masa bodoh), dan (2) Menantang (agresif).Praktek mencari kesalahan dan menekan bawahan ini masih tampaksampai saat ini. Para pengawas datang ke sekolah dan menanyakanmana satuan pelajaran. Ini salah dan seharusnya begini.Praktek-praktek supervisi seperti ini adalah cara memberi supervisi yangkonvensional. Ini bukan berarti bahwa tidak boleh menunjukkankesalahan.Masalahnya ialah bagaimana cara kita mengkomunikasikanapa yang dimaksudkan sehingga para guru menyadari bahwa dia harusmemperbaiki kesalahan. Para guru akan dengan senang hati melihat danmenerima bahwa ada yang harus diperbaiki. Caranya harus secara taktispedagogis atau dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaanbukan bahasa penolakan.

b) Model Supervisi Ilmiah
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1) Dilaksanakan secara berencana dan kontinu;
(2) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu;
(3) Menggunakan instrumen pengumpulan data;
(4) Ada data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau checklist lalupara siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajarguru/dosen di kelas. Hasil penelitian diberikan kepada guru-guru sebagaibalikan terhadap penampilan mengajar guru pada cawu atau semesteryang lalu.Data ini tidak berbicara kepada guru dan guru yangmengadakan perbaikan.Penggunaan alat perekam data ini berhubunganerat dengan penelitian.Walaupun demikian, hasil perekam data secarailmiah belum merupakan jaminan untuk melaksanakan supervisi yanglebih manusiawi.

c) Model Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan padapeningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalamperencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermattentang penampilan mengajar yang nyata, serta bentujuan mengadakanperubahan dengan cara yang rasional.Supervisi klinis adalah proses membantu guru-guru memperkecilkesenjangan antara tingkah laku rnengajar yang nyata dengan tingkahlaku mengajar yang ideal. Lebih lengkap tentang supervisi klinis dalamuraian tersendiri.

d) Model Supervisi Artistik
Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), mengajar itu suatuketerampilan (skill), tapi mengajar juga suatu kiat (art).Sejalan dengantugas mengajar supervisi juga sebagai kegiatan mendidik dapatdikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu kiat.Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain (working for the others), bekerja dengan orang lain (working with the others), bekerjamelalui orang lain (working through the others). Dalam hubunganbekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan kemanusiaanadalah unsur utama. Hubungan manusia dapat tercipta bila ada kerelaanuntuk menerima orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapattercipta bila ada unsur kepercayaan.Saling percaya saling mengerti,saling menghormati, saling mengakui, saling menerima seseorangsebagaimana adanya.Hubungan tampak melalui pengungkapan bahasa,yaitu supervisi lebih banyak.

B.Pendekatan Supervisi Pendidikan
Pendekatan berasal dari kata approad adalah cara mendekatkan dirikepada objek atau langkah-langkah menuju objek. Sudjana (2004) membagipendekatan supervisi menjadi dua, yaitu: pendekatan langsung (directcontact) dan pendekatan tidak langsung (indirect contact).

a. Pendekatan langsung (direktif)
Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yangbersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung, sudah tentupengaruh perilaku supervisor lebih dominan.Pendekatan direktif iniberdasarkan pada pemahaman terhadap psikologis behauioristis.Prinsipbehaviorisme ialah bahwa segala perbuatan berasal dari refleks, yaiturespons terhadap rangsangan/ stimulus. Oleh karena guru memilikikekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksilebih baik. Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement)atau hukuman (punishment).Pendekatan seperti ini dapat dilakukandengan perilaku supervisor seperti berikut ini.
1) Menjelaskan,
2) Menyajikan,
3) Mengarahkan,
4) Memberi contoh,
5) Menerapkan tolok ukur, dan
6) Menguatkan.
b. Pendekatan tidak langsung (Non-Direktif)
Yang dimaksud dengan pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalahcara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung.Perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan,tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakanoleh guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada guruuntuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Pendekatannon-direktif ini berdasarkan pada pemahaman psikologis humanistik.Psikologi humanistik sangat menghargai orang yang akan dibantu. Olehkarena pribadi guru yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih banyakmendengarkan permasalahan yang dihadapi guru-guru. Gurumengemukakan masalahnya. Supervisor mencoba mendengarkan, dan memahami apayang dialami. Perilaku supervisor dalam pendekatannon-direktif adalah sebagai berikut.
1) Mendengarkan,
2) Memberi penguatan,
3) Menjelaskan,
4) Menyajikan, dan
5) Memecahkan masalah.


Pendekatan kolaboratif
Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan carapendekatan direktif dan non-direktif menjadi suatu cara pendekatanbaru. Pada pendekatan ini, baik supervisor maupun guru bersama-samabersepakat untuk menetapkan struktur proses dan kriteria dalammelaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru.Pendekatan ini didasarkan pada psikologi kognitif. Psikologi kognitifberanggapan bahwa belajar adalah perpaduan antara kegiatan individudengan lingkungan yang pada gilirannya akan berpengaruh dalampembentukan aktivitas individu. Dengan demikian, pendekatan dalamsupervisi berhubungan pada dua arah; dari atas ke bawah dan daribawah ke atas.Perilaku supervisor dalam pendekatan ini adalah sebagaiberikut.
1) Menyajikan
2) Menjelaskan
3) Mendengarkan
4) Memecahkan masalah
5) Negosiasi
Ketiga macam pendekatan itu dilakukan dengan melalui tahap-tahapkegiatan pemberian supervisi sebagai yaitu:
1) Percakapan awal (pre-conference)
2) Observasi
3) Analisis/interpretasi
4) Percakapan akhir(pasconference)
5) Analisis akhir
6) Diskusi

Teknik Supervisi
Teknik adalah suatu metode atau cara melakukan hal-hal tertentu.Suatu teknik yang baik adalah terampil dan cepat menurut ( Hariwung1989). Seorang supervisor harus memilih teknik-teknik khusus yang serasi.Teknik sebagai suatu metode atau cara melakukan hal-hal tertentu. Suatuteknik yang baik adalah terampil dan cepat; teknik dipakai menyelesaikantugas yang dikerjakan sesuai rencana, spesifikasi atau tujuan yang dikaitkandengan teknik yang bersangkutan.Jadi teknik supervisi adalah cara-cara khusus yang digunakan untuk menyelesaikan tugas supervisi dalam mencapai tujuan tertentu.Teknik supervisi adalah atat yang digunakan oleh supervisor untukmencapai tujuan supervisi itu sendiri yang pada akhir dapat melakukanperbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Tekniksupervisi dapat dibadi atas dua sifat,(a) Indivdual dan (b) Kelompok. TeknikIndividual adalah teknik yang dilaksanaan oleh seorang guru oleh dirinyasendiri, sedangkan kelompok adalah dilakukan oleh beberapa orang ataubersama.

Teknik individual terdiri atas:
a)      Kunjungan kelas,
Teknik ini dengan observasi kelas sama-sama dilakukan di ruang kelas,tetapi tidak sama. Perbedaannya dapat kita lihat pada tujuan dari teknikini dimana tujuannya untuk (1) membantu guru yang belumberpengalaman,(2) membantu guru yang sudah berpengalaman tentangkekeliruanyang dilakukannya,(3) membantu guruyang baru pindah,(4)membantu melaksanakan proyek pendidikan,(5) mengamati prilaku gurupengganti,(6) mendengarkan nara sumber mengajar,(7) mengamati timpengajar, (8) mengamati cara mengajar bidang-bidang studi istimewa,serta (9) membantu menilai pemakaian media pendidikan baik yangberu atau pun yang canggih.
b)      Observasi kelas,
Teknik observasi kelas dilakukan pada saat guru mengajar. Supervisormengobservasi kelas dengan tujuan untuk memperoleh data tentangsegala sesuatu yang terjadi proses belajar mengajar. Data ini sebagaidasar bagi supervisor melakukan pembinaan terhadap guru yang
diobservasi. Tentang waktu supervisor mengobservasi kelas ada yangdiberitahu dan ada juga tidak diberi tahu sebelumnya, tetapi setelahmelalui izin supaya tidak mengganggu proses belajar mengajar.
c)       Percakapan pribadi,
Dialog yang dilakukan oleh guru dan supervisornya, yang membahastentang keluha-keluhan atau kekurangan yang dikuakan oleh gurudalam bidang mengajar, di mana di sini supervisor dapat memberikanjalan keluarnya.
d)      Inter visitasi,
Teknik ini dilakukan oleh sekolah-sekolah yang masih kurang majudengan menyuruh beberapa orang guru untuk mengunjungi sekolahsekolahyang ternama dan maju dalam pengelolaannya untukmengetahui kiat-kiat yang telah diambil sampai seekolah tersebut maju.
e)      Penyeleksi berbagai sumber materi untuk belajar,
Cara untuk mengikuti perkembangan keguruan kita, ialah dengan berusaha mengikuti perkembangan itu melalui kepustakaan profesional,dengan mengadakan "profesional reading ". Ini digunakan untukmenambah pengetahuan dan meningkatkan situasi belajar mengajar
yang lebih baik.
f)       Menilai diri sendiri.
Guru dan supervisor melihat kekurangan masing-masing yang mana inidapat memberikan nilai tambah pada hubungan guru dan supervisortersebut,yang akhirnya akan memberikan nilai positif bagi kegiatanbelajar mengajar yang baik. Menilai diri sendiri merupakan tugas yangtidak mudah bagi guru, karena suatu pengukuran terbalik karena selamaini guru hanya menilai murid-muridnya. Ada beberapa cara atau alatyang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, antara lain membuatdaftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-muriduntuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas guru di muka kelas. Yaitudengan menyususun pertanyaan yang tertutup maupun terbuka, tanpaperlu menyebutkan nama siswa.
g) Supervisi yang memakai pendapat para siswa.
Teknik ini adalah dengan menanyakan kepada siswa tentang belajarmengajar dan materi yang telah diajarkan.Hal ini dimaksudkan untukmenilai bagaimana hasil mengajar untuk peningkatan kualitas dalammengajar.
Teknik kelompok terdiri atas:
a)      Pertemuan orientasi bagi guru baru,
Pertemuan itu ialah salah satu daripada pertemuan yang bertujuankhusus mengantar guru untuk memasuki suasana kerja yang baru.Pertemuan orientasi ini bukan saja guru baru tapi juga seluruh staf guru.Hal-hal yang disajikan dalam pertemuan orientasi ini meliputi :
1) Sistem kerja dari sekolah itu
Biasanya dilaksanakan melalui percakapan bersama, yang dapatjuga diselingi dengan pengenalan physik dan saling diskusibersama yang disebut juga a round table discussion.
2) Proses dan mekanisrne administrasi dan organisasi sekolah.
3) Biasanya diiringi dengantanya jawab dan penyajian seluruhkegiatan dan situasi sekolah.
4) Sering juga pertemuan orientasi ini diikuti dengan tindak lanjutdalam bentuk diskusi kelompok, lokaarya selama beberapa hari,sepanjang tahun.
5) Ada juga melalui perkunjungan ke tempat-tempat tertentumisalnya pusat-pusat industri, atau obyek-obyek sumber belajar.
6) Salah satu ciri yang sangat berkesan bagi pembinaan segi social dalam orientasi ini ialah makan bersama.
7) Juga tempat pertemuan turut juga mempengaruhi orientasi itu.
8) Aspek lain yang membantu terciptanya suasana kerja, ialahbahwa guru baru itu tidak merasa asing tetapi ia merasa diterimadalam kelompok guru lain.Pertemuan orientasi ini merupakan juga jumpa untuk merencanakanprogram sekolah yang berhubungan dengan pembinaan guru dalamproses belajar mengajar.

b)      Panitia Penyelenggara,
Suatu kegiatan bersama biasanya perlu diorganisasi.Untukmengorganisasi sesuatu tugas bersama, ditunjuk beberapa orangpenanggungjawab pelaksana.Para pelaksana yang dibentuk untukmelaksanakan sesuatu tugas yang lazim sebut panitia penyelenggara.Panitia ini dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sekolahkepadanya, banyak mendapat pengalaman-pengalaman kerja. Pengalaman dalam usaha lencapai tujuan, pengalaman dalam mengerticara bekerja sama dengan orang lain, pengalaman yang berhubungandengan tugas yang dibebankan. Berdasarkan pengalaman-pengalamanitu guru-guru dapat bertambah dan bertumbuh daprofesi mengajarnya.
c)       Rapat Guru,
Rapat guru berbeda dengan pertemuan pormal karena pada rapat inisemua guru yang ada pada sekolah tersebut hadir.Dalam rapat inibiasanya dibicarakan masalah pengajaran, dan kepala sekolah besertawakilnya sebagai supervisor. Namun kadang pelaksanaan rapat tersebutdikelola oleh suatu panitia guru atau tim penasehat kepala sekolah.Tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki kualitas personal danprogram sekolah; dan juga memberikan kesempatan untuk berpikirkoopratif, merencanakan staf, mendorong orang untuk berbicara dandapat mengenal sekolah secara keseluruhan.
d)      Tukar menukar pengalaman,
Rapat guru berbeda dengan pertemuan pormal karena pada rapat inisemua guru yang ada pada sekolah tersebut hadir.Dalam rapat inibiasanya dibicarakan masalah pengajaran, dan kepala sekolah besertawakilnya sebagai supervisor. Namun kadang pelaksanaan rapat tersebutdikelola oleh suatu panitia guru atau tim penasehat kepala sekolah.Tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki kualitas personal danprogram sekolah; dan juga memberikan kesempatan untuk berpikirkoopratif, merencanakan staf, mendorong orang untuk berbicara dandapat mengenal sekolah secara keseluruhan.
e)      Lokakarya,
Lokakarya ini dengan cara mendatangkan para ahli-ahli pendidikanuntuk mendiskusikan masalah-masalah pendidikan. Ketika itu guru-gurudapat mengambil kesimpulan dari apa yang dibicarakan. Teknik iniadalah usaha untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan bekerjasama baik mengenai masalah-masalah teoritis maupun prakltis denganmaksud untuk meningkatkan kualitas hidup secara umum dan kualitasprofesional secara khususnya.Workshop atau lokakarya salah diantara satu metode yang dapatditempuh pengawas dalam melakukan supervisi manajerial.Metode initentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepalasekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah.Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan atauurgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan Kelompok KerjaKepala Sekolah atau organisasi sejenis lainnya. Sebagai contoh,
pengawas dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan workshoptentang pengembangan KTSP, sistem administrasi, peran sertamasyarakat, sistem penilaian dan sebagainya.
f)       Diskusi panel,
Teknik ini dilakukan dihadapan guru oleh para pakar dari bermacamsudut ilmu dan pengalaman terhadap suatu masalah yang telahditetapkan. Mereka akan melihat suatu masalah itu sesuai denganpandangan ilmu dan pengalaman masing-masing sehingga guru dapatmasukan yang sangat lengkap dalam mnenghadapi atau memecahkansuatu masalah. Manfaat dari kegiatan ini adalah lahirnya sifat cekatandalam memecahkan masalah dari berbagai sudut pandang ahli.
g)      Seminar, Simposium,
Kegiatan mendatangkan seorang ahli pendidikan untuk membahasmasalah pendidikan.Simposium menyuguhkan pidato-pidato pendekyang meninjau suatu topik dari aspek-aspek yang berbeda.Penyuguhpidato biasanya tiga orang dimana guru sebagai pengikut diharapkandapat mengambil bekal dengan mendengarkan pidato-pidato tersebut.


h)      Demontrasi mengajar.
Usaha peningkatan belajar mengajar dengan cara mendemonstrasikancara mengajar dihadapan guru dalam mengenalkan berbagai aspekdalam mengajar di kelas oleh supervisor.
I) Perpustakaan profesional,
Perpustakaan professional sekolah merupakan sumber informasi yang sangat membantu kepada pertumbuhan keprofesionalan personil pengajar di sekolah.Perpustakaan professional menyediakan sumber informasi, selain itu juga sebagai rangsangan bagi kepuasan pribadi.Buku-buku tentang pandangan professional, bacaan suplementer yang lebih baru, dan majalah professional yang banyak jumlahnya itu hendaknya tersedia bagi semua guru.
j) Buletin supervisi,
Suatu media yang bersifat cetak dimana disana didapati peristiwaperistiwa pendidikan yang berkaitan dengan cara-cara mengajar,tingkahlaku siswa,dan sebagainnuya.Diharapkan ini dapat membantu guruuntuk menjadi lebih baik.
k) Membaca langsung,
Kegiatan ini dilakukan guru secara perseorangan, dimana guru membacabuku-buku pendidikan yang akan membantu guru tersebut.
l) Organisi profesi,
Organisasi profesi guru di Indonesia adalah PGRI (Persatuan GuruRepublik Indonesia), sedangkan dosen mempunyai organisasi profesitersendiri yaitu ADI (Asosiasi Dosen Indonesia). PGRI adalah lembagaprofesi yang melindungi guru secara lembaga dalam segala sesuatuyang akan merusak citra guru baik dari dalam maupun dari luaranggotanya. Lembaga ini sekaligus memperjuangkan hak dankewajibannya secara hukum kepada semua pihak yang langsung atautidak langsung berhubungan dengan guru.Hal ini penting untukmenjaga agar guru tidak terganggu pekerjaan pokoknya sehar-hari.Adalah suatu cara dimana guru-guru melakukan kunjungan ke sekolah-sekolahuntuk memperkaya pengalaman belajar mengajar terutamabagi guru-guru yang mengalami masalah dalam tugas, sehingga merekamendapatkan semacam selingan atau refresssing setelah melakukanpekerjaan rutin mereka di sekolah.Dengan cara ini diharapkan mendorong pertumbuhan jabatan dankegairahan bekerja dengan sumber-sumber penglaman yang baru.
m) perjalanan sekolah.
Suatu tempat dimana guru-guru dapat memperoleh sumber-sumbermateri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam rangkainsevice training.
n) Mengikuti kursus
Teknik ini dilakukan oleh guru untuk meningkatan pengetuan danketerapilan mereka dalam mengajar agar tidak monoton.
o) Supervisi Sebaya (Peer Supervising)
Sejajar dengan prinsip metodelogi belajar mangajar bahwa anak yangpintar diperbolehkan membantu teman-temannya dalam belajarwalaupun ia tidak berhak dalam menilai keberhasilan guru yang dibantu.Teknik ini sangat berguna dalam share pengalaman guru dari temanseprofesi dalam bidangnya. Mereka akan mendapatkan kiat-kiat yangada pada masing-masing teman terutama pada materi materi sulit.
p) Supervisi dengan pemanfaatan Alat Elektronika
Teknik ini memanfaatkan alat-alat elektronika yang dapat menangkapgambar-gambar secara kontinyu dan dapat merekam suara.Biladiadakan supervisi kita supervisor hanya mengoperasikan saja alat-alattersebut.Alat ini tidak mengganggu kewajaran proses belajar mengajar.
q) Pemanfaatan Nara Sumber
Sumber yang dapat memberikan pendalaman dan perluasan ilmu secaralangsung, dengan kemungkinan untuk berinteraksi dan memberikanpenjelasan secukupnya, berupa seorang ahli yang dapat didatangkansebagai nara sumber (resource person).

Supervisi manajerial

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah diisyaratkan bahwa pengawas sekolah dituntut untuk menguasai kompetensi supervisi manajerial.
Esensi dari supervisi manajerial adalah berupa kegiatan pemantauan, pembinaan dan pengawasan terhadap kepala sekolah dan seluruh elemen sekolah lainnya di dalam mengelola, mengadministrasikan dan melaksanakan seluruh aktivitas sekolah, sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan sekolah serta memenuhi standar pendidikan pendidikan nasional.
Merujuk pada tulisan yang dipublikasan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.Depdiknas (2008), di bawah ini disajikan beberapa metode supervisi manajerial yang dapat dikembangkan oleh para pengawas sekolah.
Metode supervisi manajerial:
1. Monitoring dan Evaluasi
2. Refleksi dan Focused Group Discussion                                                                                  
3. Metode Delphi
4. Workshop

Supervisi akademik
Supervisi Akademik (1305) dapat  sekolah gunakan sebagai perangkat evaluasi diri sekolah yang selanjutnya menjadi bahan pertimbangan pengawas. Pada supervisi akademik terdapat dua dimensi kegiatan yang dapat disupervisi yaitu dimensi manajerial dan pedagogis.
Pada dimensi manajerial, kegiatan pemantauan, pembinaan, dan penilaian penerapan delapan standar nasional pendidikan berurusan dengan langkah perencanaan, pelaksanaan, pemantauan mutu pelaksanaan, dan perbaikan kegiatan berkelanjutan mengenai kegiatan pembelajaran.
Pemantauan,pembinaan, dan penilaian dalam menerapkan delapan standar pendidikan nasional dari sisi akademik menyangkut bagaimana pendidik memfasilitasi siswa belajar. Hal ini berkaitan dengan pemahaman dan keterampilan pendidik dalam memfasilitasi siswa belajar.Mengukur pemahaman konsep pedagogis dalam perencanaan belajar, pelaksanaan, dan evaluasi.
Langkah Kegiatan
Supervisi akademik dapat mengitegrasikan tiga tugas pokok pengawas yaitu memantau, membina, dan menilai. Pelaksanaan pemantauan  meliputi tiga langkah utama yaitu (1) Pra-pemantauan (2) Pelaksanaan pemantauan (3) Refleksi dan Pembinaan.
                                             
Supervisi Klinis
Supervisi Klinis yaitu bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan
perubahan dengan cara yang rasional.
Supervisi klinis adalah proses membantu guru-guru memperkecil kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal. Hal sangat mendukung PP 22 Tahun 2006, tentang Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, yang mengaruskan guru taat asas terhadap isi mata pelalajaran yang diajarkannya.

Karakteristik supervisi klinis diberikan oleh Bafadal (2004) sebagai
berikut.
1) Supervisi klinis berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka
antara supervisor dan guru;
2) Tujuan supervisi klinis adalah untuk pengembangan profesional
guru;
3) Kegiatan supervisi klinis ditekankan pada aspek-aspek yang
menjadi perhatian guru serta observasi kegiatan pengajaran di
kelas;
4) Observasi harus dilakukan secara cermat dan mendetail;
5) Analisis terhadap hasil observasi harus dilakukan bersama antara
supervisor dan guru, serta
6) Hubungan antara supervisor dan guru harus bersifat kolegial
bukanotoritarian.

tahap dalamproses supervisi klinis, yaitu:
(1) tahap perencanaan (tahappertemuan awal);
(2) tahap observasi mengajar, dan
(3) tahapevaluasi dan analisis (pertemuan balikan).

0 komentar:

Poskan Komentar